Kamis, 02 Juni 2011

Sejarah munculnya paham Liberalisme

oleh: sulandra_amen_sambas     Pengarang : Dwi Ari Listiyani

a. Pengertian
Liberalisme adalah suatu paham yang menghendaki adanya kebebasan
individu dalam segala bidang. Menurut paham ini titik pusat dalam hidup
ini adalah individu. Karena ada individu maka masyarakat dapat tersusun
dan karena individu pula negara dapat terbentuk. Oleh karena itu, masyarakat
atau negara harus selalu menghormati dan melindungi kebebasankemerdekaan
individu. Setiap individu harus memiliki kebebasankemerdekaan,
seperti dalam bidang politik, ekonomi, dan agama.
b Lahirnya Liberalisme
Lahirnya liberalisme untuk pertama kalinya dikobarkan oleh kaum
Borjuis, Prancis pada abad ke-18 sebagai reaksi protes terhadap kepincangan
yang telah berakar lama di Prancis. Sebagai akibat warisan sejarah masa
lampau, di Prancis terdapat pemisahan dan perbedaan yang tajam sekali
antara golongan I dan II yang memiliki berbagai hak tanpa kewajiban dan
golongan III yang tanpa hak dan penuh dengan kewajiban.
Golongan Borjuis mengajak seluruh rakyat untuk menentang kekuasaan
raja yang bertindak sewenang-wenang dan kaum bangsawan dengan
berbagai hak istimewanya guna mendapatkan kebebasan berpolitik,
berusaha, dan beragama. Gerakan ini diilhami oleh pendapat Voltaire,
Montesquieu, dan J.J. Rousseau. Gerakan liberalisme akhirnya meningkat
menjadi gerakan politik dengan meletusnya Revolusi Prancis. Selanjutnya,
lewat kekuasaan Napoleon Bonaparte, paham liberal ini disebarluaskan ke
negara-negara Eropa melalui semboyan liberte, egalite, dan fraternite.
c. Praktik Liberalisme
1) Bidang Politik
Terbentuknya suatu negara merupakan kehendak dari individuindividu.
OLeh karena itu, yang berhak mengatur dan menentukan
segala-galanya adalah individu-individu tersebut. Dengan kata lain,
kekuasaan tertinggi (kedaulatan) dalam suatu negara berada di tangan
rakyat (demokrasi). Agar supaya kebebasan, kemerdekaan individu tetap
dijamin dan dihormati sehingga harus dibentuk undang-undang, hukum,
parlemen, dan sebagainya. Dengan demikian, yang dikehendaki oleh
golongan liberal adalah demokrasi liberal. Hal ini seperti yang berlaku
di negara-negara Eropa Barat dan Amerika Serikat.
Bagi Indonesia, demokrasi liberal tidak cocok dan tidak sesuai
dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ketika paham ini diterapkan di
Indonesia ( 1950–1959) yakni masa berlakunya UUD Sementara 1950,
negara kita selalu diliputi kekalutan karena menimbulkan instabilitas di
segala bidang, baik politik, sosial, ekonomi, maupun keamanan.
2) Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi, golongan liberal menghendaki adanya
sistem ekonomi bebas. Tiap-tiap individu harus memiliki kebebasan
berusaha, memilih mata pencaharian yang disukai, mengumpulkan
harta benda , dan lain-lain. Pemerintah tidak boleh ikut campur tangan
karena masalah itu masalah individu.
Semboyan kaum liberal ialah laisser faire, laisser passer, le monde
va de luimeme, artinya produksi bebas, perdagangan bebas, dunia akan
berjalan sendiri.
3) Bidang Agama
Liberalisme menganggap masalah agama merupakan masalah
pribadi, masalah individu. Tiap-tiap individu harus memiliki kebebasankemerdekaan
beragama dan menolak campur tangan negara/pemerintah.
Dengan demikian, dalam bidang agama, golongan liberal
menghendaki kebebasan memilih agama yang disukainya dan bebas
menjalankan ibadah menurut agama yang dianutnya.


 

Kekayaan Budaya Tapanuli (Selatan)

WISATA BUDAYA DI SEPANJANG SUNGAI BARUMUN KABUPATEN TAPANULI SELATAN
Sukawati Susetyo
Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional
Kondisi geografis di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan dialiri oleh sungai Barumun dan Pane beserta anak-anak sungainya yaitu Sungai Sirumambe, Sihapas, dan Sangkilon. Sungai Barumun berhulu di daerah Siraisan Kecamatan Ulu Barumun, Kabupaten Tapanuli Selatan. Untuk menuju lokasi wisata budaya yang merupakan kawasan percandian Padang Lawas ini, dari Medan dapat ditempuh dengan jalan darat dan udara.
Jika melalui darat perjalanan sejauh 400 km ini dapat ditempuh sekitar 10 jam, melewati Prapat, Tarutung, Sipirok, Gunung Tua. Gunung Tua adalah ibukota kecamatan Padang Bolak dengan jumlah penduduk yang cukup padat. Karena letaknya di persimpangan jalan Pakanbaru Rantauprapat dan Pakanbaru-Padangsidimpuan, kota kecamatan ini cukup ramai dikunjungi oleh para pedagang dan sekaligus sebagai tempat persinggahan. Letaknya sekitar 60 km. dari arah kota Padangsidimpuan, ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan. Sedangkan jika melalui udara, jadwal penerbangan hanya dua kali seminggu menuju bandara Aek Godang. Wisata budaya yang cukup menarik di sepanjang hulu Sungai Barumun hingga ke daerah pertempuran Sungai Barumun-Pane adalah Makam Kramat Jiret Mertuah, Biaro Sisangkilon, Biaro Tandihat, Biaro Sipamutung dan Biaro Aek Tunjang.
Makam Kramat Jiret Mertuah (Situs Pageran Bira)
Situs Makam Kramat Jiret Mertuah oleh peneliti terdahulu disebut dengan nama Pageran Bira. Terletak di Desa Pageran Bira Jae, Kecamatan Sosopan, Kabupaten Tapanuli Selatan.. Untuk menuju situs Pageran Bira, dari Gunung Tua ke arah Sibuhuan sejauh 72 km, kemudian ke kanan (barat) sejauh 18 km melewati 3 kecamatan yaitu Kecamatan Lubuk Barumun, Ulu Barumun dan Sosopan. Setelah sampai di Masjid Nurul Iman, desa Pagaran Bira Jae perjalanan dilanjutkan ke kiri
melewati jalan setapak sekitar 200 meter.
Situs Makam Kramat Jiret terletak di tengah kebun kopi pada sebidang tanah yang dibatasi dengan “pagar” dari batu kali. Pada jarak sekitar 150 meter ke arah barat laut terdapat sungai Sorimangampu yang mengalir dari barat daya ke timur laut.
Sungai Sorimangampu ini airnya sangat jernih dan tebingnya curam. Lingkungan situs yang berada pada ketinggian 240 dpl ini cukup sejuk..
  AGLOCO
Makam kuno dengan nisan kemuncak candi
Di situs ini terdapat dua buah makam kramat, penduduk setempat biasa menyebut makam “suami” dan makam “istri” yang terletak di teras paling atas.
Sedangkan dua teras yang lebih rendah berada di sebelah utara makam ini. Kedua tokoh yang dimakamkan merupakan penyebar agama Islam di daerah tersebut. Yang menarik pada situs ini adalah makam kuno yang dibangun di atas bekas candi. Batu-batu candi yang terdapat pada situs ini berupa batu andesit berbentuk umpak, yoni,kemuncak candi atau kemuncak pagar langkan.
Makam 1. Merupakan makam “suami” yang berada di atas tumpukan batu candi dan batu kali. Orientasi makam utara –selatan, dengan ukuran panjang 4,40 X 1 meter. Nisan pada makam ini berupa kemuncak candi, di bagian kepala berupa bagian dari stupa dengan dan bagian kaki berbentuk amalaka (waluh).
Pada makam ini terdapat umpak batu yang ditempatkan di sebelah timur Foto 3. Sungai Siraisan, tidak jauh dari Situs Pageran Bira laut, tenggara dan barat daya, dan batu candi di sebelah timur laut makam.
Makam 2. Merupakan makam “istri” dengan orientasi utara-selatan, berukuran 3,40 X 1,2 meter. Nisan di bagian kepala berbentuk kemuncak candi yang berada di atas lapik batu. Sedangkan nisan di bagian kaki berupa lempengan batu candi berbentuk persegi empat.
Biaro Si Sangkilon Biaro Si Sangkilon terletak di Desa Sangkilon, Kecamatan Barumun, Kabupaten Tapanuli Selatan. Jarak lokasi dengan ibukota kecamatan (Sibuhuan) sekitar 9 km. Runtuhan biaro Si Sangkilon berupa beberapa gundukan tanah yang terletak di tengah areal persawahan. Sekitar 20-30 meter menuju arah utara terbentang Sungai Sangkilon (Sungai Barumun di daerah hulu) yang mengalir ke arah barat – timur laut.
Pada areal kompleks yang dibatasi tembok keliling terdapat empat buah runtuhan bangunan, masing-masing sebuah bangunan induk dan tiga buah bangunan yang lebih kecil.
Kompleks biaro Si Sangkilon mempunyai tembok pagar keliling yang dibuat dari bata. Runtuhan gerbang pintu masuk halaman kompleks biaro yang masih tersisa terletak di sisi utara menghadap ke arah Sungai Sangkilon berukuran 1 X 2 meter dengan tinggi sekitar 0,6 meter.
Bangunan Biaro Induk sudah tidak utuh lagi, bagian bangunan yang masih tersisa adalah kaki dan tubuh, sedangkan bagian atapnya sudah hilang. Bagian kaki bangunan tertimbun runtuhan yang bercampur dengan tanah, berukuran 11 x 11 meter dan tinggi 3,1 meter. Tubuh bangunan yang masih tersisa hanya dua sisi, yaitu sisi utara dan sisi barat. Masing-masing sisi berukuran lebar 2 meter dan tinggi 2,6 meter.
Berdasarkan temuan sebuah lempengan prasasti emas berukuran 5 x 14 cm dalam bilik Biaro Induk Biaro Sangkilon diduga dibangun pada abad ke-14 Masehi. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional dengan nomor inventaris 6146.
Di ujung tangga naik biaro induk terdapat sepasang hiasan makara yang keadaannya sudah rusak (bagian atas belalai sudah patah). Sebagian badannya terbenam di tanah. Hiasan yang terdapat pada makara berupa sulur-sulur daun. Di bagian mulut makara terdapat hiasan makhluk raksasa.
Di halaman kompleks biaro ini terdapat 3 gundukan yang mungkin merupakan runtuhan bangunan. Gundukan-gundukan ini terletak di sebelah barat, utara, dan barat laut Biaro Induk. Temuan lain yang terdapat di halaman biaro berupa 2 buah arca singa, fragmen bangunan, dan lapik. Seluruhnya dibuat dari batu andesit. Arca singa yang ditemukan bagian kepalanya sudah hilang.
Biaro Tandihat
Terletak di desa Tandihat, Kecamatan Barumun Tengah, Biaro Tandihat Kabupaten Tapanuli Selatan. Biaro Tandihat 1 merupakan sebuah bangunan bata yang masih berdiri tegak di tengah (agak ke barat) halaman percandian. Bangunan biaro yang sekarang masih berdiri berukuran 5 X 5 meter dengan tinggi lebih dari 5 meter dengan pintu masuk menghadap ke timur. Pada dinding bagian dalamterdapat lubang yang diduga untuk menempatkan arca berukuran kecil, ukuran lubang adalah 25 X 30 cm dan dalam 10 cm. Di halaman biaro di sekitar biaro ditemukan artefak lepas antara lain 6 buah lapik dan 2 buah alas kemuncak.
Selain Biaro Tandihat 1 masih terdapat Biaro Tandihat 2 dan 3 yang terletak tidak terlalu jauh. Berdasarkan temuan prasasti pada permukaan lempeng emas dari Tandihat 2 -yang menurut Stutterheim dihubungkan dengan upacara tantrik, biaro ini diduga berasal dari abad ke 13-14 Masehi.
Biaro Sipamutung
Biaro Sipamutung adalah Sungai Barumun dan Pane, di desa Siparau, Kecamatan Barumun Tengah
Kabupaten Tapanuli Selatan. Terdiri dari sebuah biaro induk dan 6 biaro perwara yang saat ini sudah dipugar.
Biaro induk menghadap ke timur dengan denah bujur sangkar berukuran 11 X 11 meter, tinggi 13 meter, yang terdiri dari bagian batur, kaki, badan, dan atap. Bagian bawahnya tersusun 16 buah stupa yang lebih kecil. Lima buah Biaro perwara dibuat rbiaro perwara yang terbuat dari batu andesit terletak di sebelah 11,6 meter, tinggi 2,1
Biaro Aek Tunjang berada di Dusun Aek Tunjang, Desa Binanga, (perwaranya?) didirikan rumah, dan pada wak dari bata dan sebuah dari batu andesit.
Biaro-biaro yang terbuat dari bata adalah Biaro perwara di sebelah timur candi induk berbentuk mandapa berdenah segi empat berukuran 10,25 X 9,9 meter, tinggi 1,15 meter. Dua buah Biaro perwara berada di selatan biaro induk keduanya berupa bagian kaki candi, dengan tangga naik di sebelah timur dan di atas candinya terdapat lapik dari bata berbentuk persegi 8.
Biaro perwara yang terdapat di tenggara biaro induk berbentuk mandapa setinggi wara Sipamutung 1 meter. Sedangkan Foto7 & 8.Biaro induk dan Salah satu candi pe utara biaro induk, berdenah segi empat berukuran 11,6 X meter, dengan satu tangga di masing-masing sisinya. Tampaknya bangunan ini
merupakan bagian kaki candi, dan terdapat profil sisi genta dan bingkai rata.
Biaro Aek Tunjang
Tapanuli Selatan. Biaro yang masih tersisa berada di belakang rumah penduduk dan sekarang hanya tinggal gundukan bata setinggi 3 meter, panjang 5 meter dan lebar 4 meter. Biaro Aek Tunjang hingga saat ini belum dibebaskan tanahnya oleh instansi yang berwenang, berada di tanah milik 4 orang warga yaitu Sultan Humala Hasibuan, Sultan Lumbang Alon Hasibuan dll.

PROSES PERUBAHAN SOSIAL BUDAYA

Oleh : Prof. Dr. Awan Mutakin, M.Pd
a. Pendahuluan
Dalam suatu proses modernisasi, suatu proses perubahan yang direncanakan, melibatkan semua kondisi atau nilai-nilai sosial dan kebudayaan secara integratif. Atas dasar ini, semua fihak, apakah tokoh ? Tokoh masyarakat, formal atau non-formal, anggota masyarakat lainnya, apakah dalam skala individual atau pun dalam skala kelompok, seyogianya memahami dan menyadari, bahwa, manakala salah satu aspek atau unsur sosial atau kebudayaan mengalami perubahan, maka unsur-unsur lainnya mesti menghadapi dan mengharmonisikan kondisinya dengan unsur-unsur lain yang telah berubah terlebih dulu.

Oleh karena itu mesti memahami dan menyadari bahwa sistem nilai yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan ada yang berkualifikasi norma (norm) dan nilai (value). Di mana norma skala keberlakuannya tergantung pada aspek waktu, ruang (tempat, dan kelompok sosial yang bersangkutan; sedangkan nilai (value) skala keberlakuannya lebih universal. Dalam tatanan masyarakat yang maju atau modern, maka nilai-nilai sosial dan kultural yang bersifat universal mendominasi dan mengisi semua mosaik kehidupan masyarakat yang bersangkutan.

b. Orientasi Perubahan
Yang dimaksudkan orientasi atau arah perubahan di sini meliputi beberapa orientasi, antara lain (1) perubahan dengan orientasi pada upaya meninggalkan faktor-faktor atau unsur-unsur kehidupan sosial yang mesti ditinggalkan atau diubah, (2) perubahan dengan orientasi pada suatu bentuk atau unsur yang memang bentuk atau unsur baru, (3) suatu perubahan yang berorientasi pada bentuk, unsur, atau nilai yang telah eksis atau ada pada masa lampau. Tidaklah jarang suatu masyarakat atau bangsa yang selain berupaya mengadakan proses modernisasi pada berbagai bidang kehidupan, apakah aspek ekonomis, birokrasi, pertahanan keamanan, dan bidang iptek; namun demikian, tidaklah luput perhatian masyarakat atau bangsa yang bersangkutan untuk berupaya menyelusuri, mengeksplorasi, dan menggali serta menemukan unsur-unsur atau nilai-nilai kepribadian atau jatidiri sebagai bangsa yang bermartabat.
Tidaklah jarang, bahwa tokoh-tokoh dan ungkapan-ungkapan yang bernuansa seni sastra pada masa lampau, baik suatu fenomena yang bernuansa imajinasi, yang ditampilkan oleh berbagai bentuk ceritera rakyat atau folklore. Semuanya lazim menyadarkan atau menampilkan nilai-nilai keteladanan, baik dalam aspek gagasan, aspek pengorganisasian dan kegiatan sosial, maupun dalam aspek-aspek kebendaan. Aspek-aspek ini senantiasa dimuati oleh nilai-nilai kearifan dan kebijakan yang memberikan acuan bagaimana orang mesti berfikir, berasa, berkarsa dan berkarya dalam upaya bertanggung jawab pada dirinya, pada sesamanya, dan pada lingkungannya, serta pada Sang Khalik Yang Maha Murbeng Alam ini. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi nuansa-nuansa dalam membagun kepribadian atau jatidiri sebagian besar masyarakat atau suatu kelompok bangsa dimanapun mereka berada.

Dalam memantapkan orientasi suatu proses perubahan, ada beberapa faktor yang memberikan kekuatan pada gerak perubahan tersebut, yang antara lain adalah sebagai berikut, (1) suatu sikap, baik skala individu maupun skala kelompok, yang mampu menghargai karya pihak lain, tanpa dilihat dari skala besar atau kecilnya produktivitas kerja itu sendiri, (2) adanya kemampuan untuk mentolerir adanya sejumlah penyimpangan dari bentuk-bentuk atau unsur-unsur rutinitas, sebab pada hakekatnya salah satu pendorong perubahan adanya individu-individu yang menyimpang dari hal-hal yang rutin. Memang salah satu ciri yang hakiki dari makhluk yang disebut manusia itu adalah sebagai makhluk yang disebut homo deviant, makhluk yang suka menyimpang dari unsur-unsur rutinitas, (3) mengokohkan suatu kebiasaan atau sikap mental yang mampu memberikan penghargaan (reward) kepada pihak lain (individual, kelompok) yang berprestasi dalam berinovasi, baik dalam bidang sosial, ekonomi, dan iptek, (4) adanya atau tersedianya fasilitas dan pelayanan pendidikan dan pelatihan yang memiliki spesifikasi dan kualifikasi progresif, demokratis, dan terbuka bagi semua fihak yang membutuhkannya.

Precedent dari suatu proses perubahan sosial tidak mesti diorientasikan pada isu kemajuan atau progress semata, sebab tidaklah mustahil bahwa proses perubahan sosial itu justru mengarah ke isu kemunduran atau kearah suatu regress, atau mungkin mengarah pada suatu degradasi pada sejumlah aspek atau nilai kehidupan dalam masyarakat yang bersangkutan. Suatu proses regresi atau kemunduran dan degradasi (luntur atau berkurangnya suatu derajat atau kualifikasi bentuk-bentuk atau niali-nilai dalam masyarakat), tidak hanya suatu arah atau orientasi perubahan secara linier, tetapi tidak jarang terjadi karena justru sebagai dampak sampingan dari keberhasilan suatu proses perubahan. Sebagai contoh perubahan aspek iptek, dari iptek yang bersahaja ke iptek yang modern (maju), mungkin menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada unsur-unsur atau nilai-nilai yang tengah berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan, yang sering disebut sebagai culture-shock atau kejutan-kejutan budaya yang terjadi pada tatanan kehidupan suatu masyarakat yang tengah menghadapi berbagai perubahan.

c. Modernisasi Sebagai Kasus Perubahan Sosial dan Kebudayaan
Modernisasi, menunjukkan suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik, material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal, rasional, dan fungsional. Lazimnya suka dipertentangkan dengan nilai-nilai tradisi. Modernisasi berasal dari kata modern (maju), modernity (modernitas), yang diartikan sebagai nilai-nilai yang keberlakuan dalam aspek ruang, waktu, dan kelompok sosialnya lebih luas atau universal, itulah spesifikasi nilai atau values. Sedangkan yang lazim dipertentangkan dengan konsep modern adalah tradisi, yang berarti barang sesuatu yang diperoleh seseorang atau kelompok melalui proses pewarisan secara turun temurun dari generasi ke generasi. Umumnya tradisi meliputi sejumlah norma (norms) yang keberlakuannya tergantung pada (depend on) ruang (tempat), waktu, dan kelompok (masyarakat) tertentu. Artinya keberlakuannya terbatas, tidak bersifat universal seperti yang berlaku bagi nilai-nilai atau values. Sebagai contoh atau kasus, seyogianya manusia mengenakkan pakaian, ini merupakan atau termasuk kualifikasi nilai (value). Semua fihak cenderung mengakui dan menganut nilai atau value ini. Namun, pakaian model apa yang harus dikenakan itu? Perkara model pakaian yang disukai, yang disenangi, yang biasa dikenakan, itulah yang menjadi urusan norma-norma yang dari tempat ke tempat, dari waktu ke waktu, dan dari kelompok ke kelompok akan lebih cenderung beraneka ragam.
Spesifikasi norma-norma dan tradisi bila dilihat atas dasar proses modernisasi adalah sebagai berikut, (1) ada norma-norma yang bersumber dari tradisi itu, boleh dikatakan sebagai penghambat kemajuan atau proses modernisasi, (2) ada pula sejumlah norma atau tradisi yang memiliki potensi untuk dikembangkan, disempurnakan, dilakukan pencerahan, atau dimodifikasi sehingga kondusif dalam menghadapi proses modernisasi, (3) ada pula yang betul-betul memiliki konsistensi dan relevansi dengan nilai-nilai baru. Dalam kaitannya dengan modernisasi masyarakat dengan nilai-nilai tradisi ini, maka ditampilkan spesifikasi atau kualifikasi masyarakat modern, yaitu bahwa masyarakat atau orang yang tergolong modern (maju) adalah mereka yang terbebas dari kepercayaan terhadap tahyul. Konsep modernisasi digunakan untuk menamakan serangkaian perubahan yang terjadi pada seluruh aspek kehidupan masyarakat tradisional sebagai suatu upaya mewujudkan masyarakat yang bersangkutan menjadi suatu masyarakat industrial. Modernisasi menunjukkan suatu perkembangan dari struktur sistem sosial, suatu bentuk perubahan yang berkelanjutan pada aspek-aspek kehidupan ekonomi, politik, pendidikan, tradisi dan kepercayaan dari suatu masyarakat, atau satuan sosial tertentu.
Modernisasi suatu kelompok satuan sosial atau masyarakat, menampilkan suatu pengertian yang berkenaan dengan bentuk upaya untuk menciptakan kehidupan masyarakat yang sadar dan kondusif terhadap tuntutan dari tatanan kehidupan yang semakin meng-global pada saat kini dan mendatang. Diharapkan dari proses menduniakan seseorang atau masyarakat yang bersangkutan, manakala dihadapkan pada arus globalisasi tatanan kehidupan manusia, suatu masyarakat tertentu (misalnya masyarakat Indonesia) tidaklah sekedar memperlihatkan suatu fenomena kebengongan semata, tetapi diharapkan mampu merespons, melibatkan diri dan memanfaatkannya secara signifikan bagi eksistensi bagi dirinya, sesamanya, dan lingkungan sekitarnya. Adapun spesifikasi sikap mental seseorang atau kelompok yang kondusif untuk mengadopsi dan mengadaptasi proses modernisasi adalah, (1) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berorientasi ke masa depan dan dengan cermat mencoba merencanakan masa depannya, (2) nilai budaya atau sikap mental yang senantiasa berhasrat mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi-potensi sumber daya alam, dan terbuka bagi pengembangan inovasi bidang iptek. Dalam hal ini, memang iptek bisa dibeli, dipinjam dan diambil alih dari iptek produk asing, namun dalam penerapannya memerlukan proses adaptasi yang sering lebih rumit daripada mengembangkan iptek baru, (3) nilai budaya atau sikap mental yang siap menilai tinggi suatu prestasi dan tidak menilai tinggi status sosial, karena status ini seringkali dijadikan suatu predikat yang bernuansa gengsi pribadi yang sifat normatif, sedangkan penilai obyektif hanya bisa didasarkan pada konsep seperti apa yang dikemukakan oleh D.C. Mc Clelland (Koentjaraningrat, 1985), yaitu achievement-oriented, (4) nilai budaya atau sikap mental yang bersedia menilai tinggi usaha fihak lain yang mampu meraih prestasi atas kerja kerasnya sendiri.
Tanpa harus suatu masyarakat berubah seperti orang Barat, dan tanpa harus bergaya hidup seperti orang Barat, namun unsur-unsur iptek Barat tidak ada salahnya untuk ditiru, diambil alih, diadopsi, diadaptasi, dipinjam, bahkan dibeli. Manakala persyaratan ini telah dipenuhi dan keempat nilai budaya atau sikap mental yang telah ditampilkan telah dimiliki oleh suatu masyarakat tersebut. Khusus untuk masyarakat di Indonesia, sejarah masa lampau mengajarkan bahwa sistem ekonomi, politik, dan kebudayaan dari kerajaan-kerajaan besar di Asia seperti India dan Cina, yang diadopsi dan diadaptasi oleh kerajaan-kerajaan di Nusantara ini, seperti Sriwijaya dan Majapahit, namun fakta sejarah tidak membuktikan bahwa orang-orang Sriwijaya dan Majapahit, dalam pengadopsian dan pengadaptasian nilai-nilai kebudayaan tadi sekaligus menjadi orang India atau Cina.
Proses modernisasi sampai saat ini masih tampak dimonopoli oleh masyarakat perkotaan (urban community), terutama di kota-kota Negara Sedang Berkembang, seperti halnya di Indonesia. Kota-kota di negara-negara sedang berkembang menjadi pusat-pusat modernisasi yang diaktualisasikan oleh berbagai bentuk kegiatan pembangunan, baik aspek fisik-material, sosio-kultural, maupun aspek mental-spiritual. Kecenderungan-kecenderungan seperti ini, menjadikan daerah perkotaan sebagai daerah yang banyak menjanjikan kehidupan yang lebih baik bagi penduduk pedesaan, terutama bagi generasi mudanya. Obsesi semacam ini menjadi pendorong kuat bagi penduduk pedesaan untuk beramai-ramai membanjiri dan memadati setiap sudut daerah perkotaan, dalam suatu proses sosial yang disebut urbanisasi. Fenomena demografis seperti ini, selanjutnya menjadi salah satu sumber permasalahan bagi kebijakan-kebijakan dalam upaya penataan ruang dan kehidupan masyarakat perkotaan. Sampai dengan saat sekarang ini masalah perkotaan ini masih menunjukkan gelagat yang semakin ruwet dan kompleks.

HUBUNGAN ANTROPOLOGI DENGAN ILMU LAINNYA

1. Ilmu Antropologi dengan Ilmu Politik
Antropologi menyumbang pengertian dan teori tentang kedudukan serta peranan-peranan dan satuan-satuan sosial budaya yang lebih kecil dan sederhana.
Hasil penyelidikan antropologi yang menyangkut aspek cultural termasuk dalam gagasan dan lembaga politik yang dapat menjelaskan mengenai pertumbuhan dan perkembangan politik.
2. Ilmu Antropologi dengan Ilmu Etika
Etika memberikan dasar moral kepada antropologi mana yangtidak boleh dikerjakan.
Karena untuk penelitian antropologi sering para peneliti tidak mengutamakan etika sehingga dapat kaedah-kaedah yang diatur pemerintah.
Dengan adanya ilmu etika diharapkan penelitian atua praktek antropologi dapat memperhatikan dan mengindahkan peraturan-peraturan yang berlaku.
3. Ilmu Antropologi dengan Sejarah
Sejarah menyumbang bahan yang berupa fakta dan data masa lampau yang dapat dijadikan sebagai pola ulang dalam menentukan proyeksi masa depan.
Sejarha dan antropologi merupakan satu kesatuan yang mana antropologi adalah ilmu yang mempelajari manusia dengan kebudayaan. Sedangkan sejarah sudah termasuk di dalamnya.
4. Ilmu Antropologi dengan Ilmu Filsafat
Filsafat merupakan usaha untuk secara rasional dalam mencari pemecahan atau jawaban atas pertanyaan yang menyangkut mengenai kehidupan manusia.
Untuk menunjang antropologi, filsafat juga dibutuhkan sebagia pandangan hidup bagi kehidupan bermasyarakat.
5. Ilmu Antropologi dengan Ilmu Psikologi
Psikologi mempelajari dan menyelidi pengalaman dan tingkah laku individu manusia yang dipengaruhi oleh situasi-situasi sosial.
Sebagaimana yang diketahui antropologi mempelajari tentang manusia dan psikologi menyelidiki pengalaman dan tingkah laku manusia. Adanya hubungan yaitu dengan menggunakan analisa psikologi, maka ilmu antropologi dapat menganalisa secar amendalam apa saja yang terjadi di masa lalu.
6. Ilmu Antropologi dengan Ilmu Hukum
Hubungan antara ilmu antropologi dengan ilmu hukum terletak di dalam peranan hukum sebagai pembentuk peraturan-peraturan dalam mengkaji antropologi agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
7. Ilmu Antropologi dengan Ilmu Sosiologi
Sosiologi membantu ilmu antropologi dalam mempelajari susunan kemasyarakatan, latar belakang, serta kebudayaan manusia dan pola kehidupan manusia. Sehingga dengan adanya sosiologi dapat mempermudah sarjana dalam mengkaji ilmu antropologi.
8. Ilmu Antropologi dengan Ilmu Ekonomi
Ilmu antropologi dengan ilmu ekonomi saling berkaitan dan saling mempengaruhi.
Kekuasaan ekonomi bersifat universal dalam membentuk wujud yang bermacam-macam, karena perubahan dalam hidup masyarakat lebih cepat dirasakan oleh manusia itu sendiri. Sedangkan antropologi yang mempelajari manusia dimana manusia itu sendiri tidak dapat lepas dari pengaruh ekonomi.


Selasa, 24 Mei 2011

Somalia

Somalia (bahasa Somali: Soomaaliya; bahasa Arab: ﻝﺎﻣﻮﺼﻟﺍ, As-Sumal), dahulu bernama Republik Demokratik
Somali, adalah sebuah negara
yang terletak di Tanduk Afrika. Negara ini berbatasan dengan Djibouti di barat laut, Kenya di barat daya, Teluk Aden dan Yaman di utara, Samudra Hindia di sebelah timur, dan Ethiopia di sebelah barat. Politik Abdullahi Yusuf Ahmed Somalia tidak memiliki
pemerintah nasional yang
efektif. Di barat laut, ada
pemisahan Republik Somaliland. Di bagian lain terdapat beberapa
warlord, yaitu Puntland dan Somalia Barat Daya. Pemerintahan yang diakui dunia
internasional adalah
"Pemerintahan Transisi Nasional",
awalnya dikepalai oleh
Abdulkassim Salat Hassan, yang
mengontrol hanya sebagian dari Mogadishu, ibu kota Somalia. Pada 10 Oktober 2004 Perdana Menteri Somalia terpilih Abdullahi Yusuf, presiden Puntland, menjadi presiden berikut. Karena
kekacauan di Mogadishu,
pemilihan diadakan di pusat olah
raga di Nairobi, Kenya. Yusuf terpilih Presiden transisional oleh
parlemen transisional Somalia. Ia
memenangkan 189 dari 275
suara dari parlemen. Sesi
parlemen juga diadakan di
negara tetangga Kenya. Pemerintahannya diakui oleh
banyak negara Barat sebagai
penguasa legal negara tersebut,
meskipun otoritas aktualnya
dipertanyakan. Banyak organisasi politik kecil
berdasarkan klan, lainnya
mencari politik yang bebas-
marga (seperti Front Somali
Bersatu). Banyak yang
terbentuk sejak pemilihan presiden baru. Sejarah Reruntuhan Kesultanan Adal di Zeila. Tanah Somalia terkenal sebagai
“Tanah Aromatik” pada zaman Mesir kuno. Namun bangsa
Somalia meyakini bahwa nenek
moyang mereka sekarang
adalah orang-orang Arab yang
bermigrasi ke wilayah Somalia
pada abad ke-7 pada masa penyebaran agama Islam sedang
gencar-gencarnya dilakukan
oleh orang-orang Arab muslim.
Sebagian besar dari mereka
menetap dan berasimilasi dengan
penduduk nomadik setempat yang akhirnya melahirkan
bangsa Somalia kini. Sejarah
modern Somalia dapat ditarik
dari masa kolonialisasi Inggris
dan Italia pada pertengahan
tahun 1880-an. Daerah Zeila, Berbera diperintah oleh Inggris
sebagai Somaliland Inggris dari
tahun 1880-an sampai tahun
1960, sedangkan di wilayah
selatan terdapat Somaliland
Italia, setelah Perang Dunia II, Somalia menjadi wilayah
perwalian PBB dan akhirnya
mendapatkan kemerdekaannya
pada tahun 1960 dengan nama
Republik Somalia. Republic
Somalia merupakan sebuah negara demokrasi parlementer
sampai tahun 1969 sebelum
akhirnya angkatan bersenjata
mengambil tampuk kepemimpinan
dan menjadikan Somalia sebagai
negara sosialis dengan nama Republik Demokratik Somalia.
Undang-undang dasarnya baru
disahkan pada 1979 dan
pemilihan umum telah dilakukan
untuk memilih Majelis Rakyat.
Selain itu, Somalia juga memiliki majelis hukum yang biasa dan
yang berdasarkan syariah Islam.
Somalia memiliki enam wilayah
administratif yang meliputi
Mijirtein, Mudugh, Benadir, Hiran,
Juba Atas dan Juba Bawah. Somalia sekarang dipimpin oleh
presiden dan perdana menteri,
yakni presiden Sharif Ahmed dan
perdana menteri Omar Ali. Pada tahun 1977 Somalia
sempat terlibat konflik dengan
Ethiopia karena Somalia
menginginkan wilayah Ogaden
yang secara tradisional
merupakan wilayah Somalia karena banyak sekali suku-suku
Somalia yang menetap disana.
Dengan bantuan Uni Soviet,
Ethiopia berhasil
mempertahankan wilayah itu
dan menyebabkan lebih dari 1.000.000 keluarga mengungsi ke
Somalia. Hal ini menimbulkan
masalah pengungsi yang sangat
besar di Somalia. Somalia sendiri
memiliki jumlah tentara yang
sangat kecil, karena negeri ini selalu dilanda konflik dan perang
saudara yang berkepanjangan
dan juga masalah perompakan
yang belakangan menjadi sangat
marak di wilayah laut Somalia. Geografis Kuda di dataran Dhahar. Somalia terletak dari 12` LU
sampai 39` LS dan dari 41` BT
sampai ke 51` BT. Pesisir sebelah
utaranya menghadap ke Teluk
Aden dan pesisir sebelah
timurnya menghadap ke Samudra Hindia. Negara yang
berbatasan dengannya adalah
Kenya, Djibouti, dan Ethiopia.
Wilayahnya seluas 637.657 km2,
sedikit lebih luas dari wilayah
Prancis. Somalia beriklim tropis kering dengan curah hujan
tahunan yang kurang dari 50
cm. Wilayah Somalia sebagian
besarnya adalah wilayah
setengah gurun yang gersang,
walaupun masih terdapat pegunungan dan wilayah
dataran rendah di bagian
tenggaranya. Somalia memiliki
garis pantai sekitar 2.600 km,
tetapi karena adanya karang
pelintang di lepas pantainya, maka pasokan bahan-bahan
impor agak terhambat. Somalia
memiliki tiga sungai utama yaitu
sungai Nagal di utara, sungai
Shibeli di tengah dan sungai
Giuba di selatan. Untuk dua yang disebutkan terakhir,
wilayah yang dilalui oleh aliran
sungainya selalu subur karena
tiap tahunnya sungai ini selalu
berair. Di banyak wilayah, tanah
Somalia ditumbuhi dengan
semak-semak dan rumput-
rumputan, terutama di bagian
selatan. Tumbuhan yang
tersebar di seluruh wilayahnya adalah pohon baobab dan
akasia, dan masih banyak jenis-
jenis pohon lainnya. Kekayaan
fauna yang dimiliki oleh Somalia
antara lain adalah antilop,
gajah, singa, macan tutul, cheetah, kuda nil, dan penyu.
Somalia juga merupakan tempat
berkumpulnya spesies burung
paling indah di Afrika, selain itu
Somalia juga merupakan negeri
yang kaya dengan spesies ikan hiu dan ikan tuna. Kehidupan Sosial Foto seorang gadis Somalia. Mayoritas penduduk Somalia
adalah suku Somali (mencapai
98,3%) orang-orang Somali
adalah keturunan orang Kushit
Timur. Suku ini terbagi ke dalam
sejumlah kelompok diantaranya adalah: Dir, Isaq, Hawiye, Darod,
Digil, dan Rahanwin. Kelompok-
kelompok ini terbagi lagi
kedalam sejumlah kelompok lain
yang lebih kecil. Beberapa
kelompok merupakan suku pengembara. Walaupun termasuk
ke dalam suatu kelompok besar
dalam sejarahnya sering kali
tercatat pertentangan antar
suku. Ketidakharmonisan ini
antara lain disebabkan oleh perebutan kekuasaan air, dan
daerah penggembalaan.
Penduduknya antara lain: orang
Arab (1,2%), Bantu (0,4%) dan
lain-lain (0,1%). Bangsa asing
yang tinggal di negeri ini adalah orang-orang Eropa terutama
Italia, Pakistan dan India.
Penduduk Somalia lebih banyak
menghuni daerah selatan. Dua
per tiga penduduk tinggal di
pedesaan. Di daerah perkotaan kota yang paling padat adalah
Mogadishu (700.000, 1985)
kota-kota padat lainnya adalah:
Hargeysa, Kismaayo, Berbera,
dan Marca. Penduduk Somalia
menurut catatan tahun 2005 berjumlah sekitar 8.000.000
orang. Bangsa Somalia yang
tinggal di republik ini mempunyai
hubungan yang erat dengan
bangsa Somalia yang hidup di
negara tetangganya Ethiopia, Kenya dan Djibouti. Banyak
bangsa Somalia yang bermukim
di ketiga negara itu berharap
bahwa kelak mereka itu akan
dipersatukan ke dalam Republik
Somalia. Meskipun penampilan fisik bangsa Somalia beragam
(ada yang pendek, tinggi,
berkulit hitam, atau berkulit
kuning) ciri khas bangsa somalia
adalah berkulit hitam, bermata
hitam yang berbentuk buah persik, serta berambut lebat
dan keriting. Para pria dan anak
lelaki di daerah perkotaan
berpakaian gaya Barat, tetapi
pemuda dan kebanyakan pria di
daerah pedesaan mengenakan futa atau jubah tradisional.
Kaum wanita dan para gadis
mengenakan sarung yang dibuat
dari kain berwarna-warni yang
bermeter-meter panjangnya,
dililitkan ke tubuh dan diikatkan pada bahu kanan sehingga bahu
kiri tetap terbuka. Di kota
besar serta daerah pedalaman,
para wanita menggendong bayi
mereka di punggung dengan
memakai selendang. Para wanita dan gadis mengenakan
kerudung, sedangkan anak laki-
laki mengenakan sorban atau
kopiah muslim yang terbuat dari
bahan tenunan atau sulaman. Karena demikian banyaknya
penduduk yang hidup
berpindah-pindah sepanjang
tahun, maka hanya sedikit anak
lelaki dan perempuan mereka
yang tinggal di pemukiman tetap dan bersekolah secara teratur.
Di Mogadishu terdapat sebuah
universitas, sedangkan di
berbagai kota lainnya di seluruh
negeri terdapat sekolah dasar
dan sekolah kejuruan serta sejumlah sekolah menengah. Somalia tidak memiliki jalur
kereta api, dan penduduknya
biasa menggunakan kendaraan
mobil atau kadang-kadang unta
sebagai alat transportasi utama.
Hal inilah yang menjadi penghambat arus ekonomi
Somalia. Meskipun begitu,
penyelenggaraan penerbangan
udara diselenggarakan oleh
Somalian Airlines. Tingkat kesehatan di Somalia
termasuk kecil dan ini
menyebabkan penduduknya
rentan terkena penyakit
sehingga WHO dan juga UNICEF
sering memberikan bantuan untuk menangani wabah
penyakit di Somalia. Ekonomi Walaupun terdapat sejumlah
perusahaan, perekonomian
Somalia dikendalikan secara dan
perusahaan-perusahaan milik
negara memegang peranan
utama. Nasionalisasi sejumlah perusahaan asing dilakukan
pada tahun 1970. Pada tahun
1970-an Somalia mengalami
kesulitan ekonomi akibat
kemarau panjang dan
keberadaan ribuan pengungsi dari Ethiopia. Keadaan tanah
yang tandus, curah hujan yang
sedikit, sumber daya alam yang
terbatas dan cara-cara
berproduksi yang masih
tradisional menyebabkan perekonomian Somalia tidak
dapat berkembang dengan baik.
Walaupun sejumlah kemajuan
ekonomi diperoleh sejak tahun
1950, namun hingga kini Somalia
tetap tidak dapat melepaskan diri dari bantuan negara-negara
lain terutama Amerika Serikat
dan Italia. Ternak hidup merupakan
komoditas eksport Somalia yang
terbesar tahun 1984, komoditi
ini mencapai 59,6 % dari nilai
ekspornya yang berjumlah So.Sh
1.273.800.000. Ekspor lainya adalah pisang 7,9% dan kulit
serta bulu binatang. Barang-
barang eskpor ini ditujukan ke
Arab Saudi, Italia, R.R. Cina.
Sedangkan impornya yang
bernilai So.Sh 5,135 milyar mencakup bahan makanan, alat-
alat transportasi, mesin-mesin,
bahan-bahan mentah
perpabrikan, minyak bumi,
minuman keras, tembakau,
barang-barang kimia, pakaian dan sepatu. Barang-barang
impor ini didatangkan dari Italia,
Amerika Serikat, Jerman,
Perancis, Inggris, Kenya,
Thailand, Jepang, Singapura dan
R.R. Cina. Jenis bahan tambang yang
terdapat di somalia antara lain:
minyak bumi, bijih besi, gips,
mangan, dan uranium. Bahan
mineral lainya adalah garam,
batuan gamping dan pasir. Daerah Alti Giuba dan Bur
Hacaba menghasilkan biji besi
sedangkan di dearah Mudugh
ditambang Uranium. Negeri ini hanya terbatas pada
pengolahan hasil pertanian,
peternakan, dan perikanan.
Selain itu terdapat industri
tekstil, pengilangan minyak,
sabun, pakaian dan percetakan. Daerah industri terpusat di
Kismaayo dan Ras Korsh. Sektor pertanian khususnya
peternakan merupakan tulang
punggung ekonomi somalia.
Sektor ini menyerap 80%
tenaga kerja. Ladang
penggembalaan mencapai 65,2% dari seluruh luas Somalia. Daerah
penggembalaan tersebar di
lembah-lembah sungai Giuba dan
sungai Shebela. Pada tahun
1985 jumlah ternak hidup di
negeri ini adalah 18,5 juta ekor biri-biri, 11,1 juta ekor kambing,
6 juta ekor unta dan 4,4 juta
ekor sapi. Tanah pertanian di
Somalia hanya berjumlah 1.,7%
dari luas wilayahnya. Kegiatan
pertanian dilakukan di daearah yang mendapat curah hujan
yang cukup tinggi misalnya di
Benadir. Hasil pertanian antara
lain padi, sorgum, jagung,
pisang, tebu, kapas, kacang-
kacangan, sayur mayur dan buah-buahan. Hasil pertanian
terutama digunakan untuk
memenuhi kebutuhan pangan
dalam negeri kecuali pisang yang
hasilnya cukup banyak hingga
dapat di ekspor. Kegiatan ekonomi lain yang terdapat di
Somalia adalah kehutanan dan
perikanan. Daerah hutan Somalia
mencapai 14,3% dari wilayahnya
dan pada tahun 1985 dihasilkan
4,435 m3 kayu bulat. Pada tahun yang sama sektor
pertanian juga menghasilkan
16.100 metrik ton tangkapan.
Hasil dari kedua sektor ini
diutamakan untuk memenuhi
kebutuhan dalam negeri. Kebudayaan Perayaan Idul Fitri di Mogadishu (2006).. Mayoritas penduduk Somalia
menganut agama Islam yang
merupakan agama resmi negara.
Pada tahun 1980, hanya 0,1%
penduduk yang menganut
agama Kristen dan 0,1% yang memeluk agama yang lain. Bahasa Somali dan Bahasa Arab
merupakan Bahasa resmi
negara. Bahasa Somali termasuk
dalam rumpun bahasa Kushit. Di
antara penduduk juga
digunakan bahasa Italia dan Inggris. Kaena bagian utara
republik ini dahulunya diperintah
oleh Inggris, sedangkan sebelah
selatan oleh Italia, maka bahasa
Inggris, Italia dan Arab
merupakan ragam bahasa tulisan nasional. Bahasa Somalia
digunakan di seluruh negeri,
tetapi sampai kini belum ada
ragam tulisnya yang resmi. Akan
tetapi pada tahun 1974 suatu
ragam bahasa tulisan Somalia yang seragam telah diterapkan
oleh pemerintah dan usaha
untuk mengajarkannya kepada
penduduk telah dimulai. Penduduk Somalia memiliki tradisi
mendongeng yang besar.
Berbagai legenda dan lagu telah
diturunkan dari mulut ke mulut
dari satu generasi ke generasi
berikutnya. Sebagian besar sejarah bangsa ini terekam
dalam sajak-sajak yang tidak
pernah ditulis. Karena agama
Islam mengharamkan reproduksi
figur manusia dalam bentuk
karya seni, berlainan dengan berbagai bangsa Afrika lainya,
bangsa Somalia tidak membuat
topeng. Desain yang mereka
pergunakan untuk menghias
adalah tanah liat, keranjang
anyaman, piring kayu, sisir, sendok, dan benda-benda
lainnya berupa figur dan garis
geometris. Akhir-akhir ini
perangko Somalia banyak
mendapat pujian di kalangan
internasional karena keindahannya yang luar biasa.

Rabu, 23 Maret 2011

1oo Tokoh sejarah yang paling berpengaruh dalam sejarah :


01. Nabi Muhammad
02. Isaac Newton
03. Nabi Isa
04. Buddha
05. Kong Hu Cu
06. St. Paul
07. Ts’ai Lun
08. Johann Gutenberg
09. Christopher Columbus
10. Albert Einstein
11. Karl Marx
12. Louis Pasteur
13. Galileo Galilei
14. Aristoteles
15. Lenin
16. Nabi Musa
17. Charles Darwin
18. Shih Huang Ti
19. Augustus Caesar
20. Mao Tse-Tung
21. Jengis Khan
22. Euclid
23. Martin Luther
24. Nicolaus Copernicus
25. James Watt
26. Constantine Yang Agung
27. George Washington
28. Michael Faraday
29. James Clerk Maxwell
30. Orville Wright & Wilbur Wright
31. Antone Laurent Lavoisier
32. Sigmund Freud
33. Alexander Yang Agung
34. Napoleon Bonaparte
35. Adolf Hitler
36. William Shakespeare
37. Adam Smith
38. Thomas Edison
39. Antony Van Leeuwenhoek
40. Plato
41. Guglielmo Marconi
42. Ludwig Van Beethoven
43. Werner Heisenberg
44. Alexander Graham Bell
45. Alexander Fleming
46. Simon Bolivar
47. Oliver Cromwell
48. John Locke
49. Michelangelo
50. Pope Urban II
51. Umar Ibn Al-Khattab
52. Asoka
53. St. Augustine
54. Max Planck
55. John Calvin
56. William T.G.Morton
57. William Harvey
58. Antoine Henri Becquerel
59. Gregor Mendel
60. Joseph Lister
61. Nikolaus August Otto
62. Louis Daguerre
63. Joseph Stalin
64. Rene Descartes
65. Julius Caesar
66. Francisco Pizarro
67. Hernando Cortes
68. Ratu Isabella I
69. William Sang Penakluk
70. Thomas Jefferson
71. Jean-Jacques Rousseau
72. Edward Jenner
73. Wilhelm Conrad Rontgen
74. Johann Sebastian Bach
75. Lao Tse
76. Enrico Fermi
77. Thomas Malthus
78. Francis Bacon
79. Voltaire
80. John F. Kennedy
81. Gregory Pincus
82. Sui Wen Ti
83. Mani
84. Vasco Da Gama
85. Charlemagne
86. Cyrus Yang Agung
87. Leonhard Euler
88. Niccolo Machiavelli
89. Zoroaster
90. Menes
91. Peter Yang Agung
92. Meng-Tse (Mencius)
93. John Dalton
94. Homer
95. Ratu Elizabeth I
96. Justinian I
97. Johannes Kepler
98. Pablo Picasso
99. Mahavira
100. Neils Bohr

Selasa, 15 Maret 2011

Pembagian zaman prasejarah berdasarkan geologi

Pembagian zaman prasejarah berdasarkan geologi

Pembabakan Zaman Prasejarah berdasarkan Geologi Geologi adalah ilmu yang mempelajari bumi secara keseluruhan. Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari:
a. ARKAEKUM / zaman tertua Zaman ini berlangsung kira-kira 2500 juta tahun, pada saat itu kulit bumi masih panas, sehingga tidak ada kehidupan. Dari penjelasan ini tentu Anda ingin bertanya kapan muncul kehidupan? Untuk itu simak uraian berikutnya.
b. PALEOZOIKUM / zaman primer atau zaman hidup tua Zaman ini berlangsung 340 juta tahun. Makhluk hidup yang muncul pada zaman ini seperti mikro organisme, ikan, ampibi, reptil dan binatang yang tidak bertulang punggung.gambaran kehidupan pada jaman Palaezoikum.
c. MESOZOIKUM/zaman sekunder atau zaman hidup pertengahan Zaman ini berlangsung kira-kira 140 juta tahun. Pada zaman pertengahan ijenis reptil mencapai tingkat yang terbesar seperti gambar 5 sehingga pada zaman ini sering disebut juga dengan zaman reptil. Setelah berakhirnya zaman sekunder ini, maka muncul kehidupan yang lain yaitu jenis burung dan binatang menyusui yang masih rendah sekali tingkatannya. Sedangkan jenis reptilnya mengalami kepunahan. Selanjutnya berlangsunglah zaman hidup baru seperti yang diuraikan pada materi berikut ini.
d. NEOZOIKUM / zaman hidup baru Zaman ini dibedakan menjadi 2 zaman, yaitu: 1.Tersier / zaman ketiga Zaman ini berlangsung sekitar 60 juta tahun. Yang terpenting dari zaman ini ditandai dengan berkembangnya jenis binatang menyusui seperti jenis primat, contohnya kera. 2. Kuartier/zaman keempat Zaman ini ditandai dengan adanya kehidupan manusia sehingga merupakan zaman terpenting. Dan zaman ini dibagi lagi menjadi dua zaman yaitu yang disebut dengan zaman Pleistocen dan Holocen.
Untuk memahami zaman tersebut, maka Anda dapat menyimak pada uraian berikut ini: Zaman Pleitocen/Dilluvium berlangsung kira-kira 600.000 tahun yang ditandai dengan adanya manusia purba. Zaman Holocen/Alluvium berlangsung kira-kira 20.000 tahun yang lalu dan terus berkembang sampai dewasa ini. Pada zaman ini ditandai dengan munculnya manusia jenis Homo Sapiens yang memiliki ciri-ciri seperti manusia sekarang.